STOP BULLYING DI SEKOLAH
Perundungan atau bullying seringkali terjadi di sekitar kita, tak terkecuali di kalangan remaja. Dampak perundungan bisa mempengaruhi kondisi emosi anak yang bisa berakibat pada turunnya prestasi akademis dan non akademis. Demikian disampaikan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan perempuan Perlindungan anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) . Melalui Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak H Muslim Tasim S.Kep NS. M.Kes. pada acara MPLS di SMA 1 Batukliang Utara. Selasa (14/7).
Menurut H. Muslim, Ada beberapa faktor seseorang menjadi pelaku bullying yakni, Faktor Internal Penyebab Seseorang Menjadi Pelaku Bullying diantara nya yakni, Rasa Tidak Aman (Insecurity) dan Harga Diri Rendah, Kebutuhan akan Kontrol dan Dominasi, Kurangnya Empati Serta Riwayat Menjadi Korban (Siklus Kekerasan. Di jelaskannya, Fenomena ini dikenal dengan istilah “bully-victim”. Dimana, Seseorang yang sebelumnya pernah menjadi korban bullying baik di rumah, di lingkungan pergaulan sebelumnya, atau oleh kakak kelas. memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menjadi pelaku bullying di kemudian hari. Mereka melakukan hal tersebut sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri, balas dendam, atau penyaluran amarah yang terpendam.
Sedangkan Faktor Eksternal: Pengaruh Keluarga dan Lingkungan, yakni Dinamika Keluarga yang Disfungsional. Keluarga adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Dikatakannya, Pola asuh yang salah sangat berkontribusi terhadap lahirnya perilaku bullying. Anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan pola asuh otoriter, di mana hukuman fisik sering digunakan, cenderung meniru perilaku agresif tersebut Lebih lanjut di jelaskan H. Muslim Sebaliknya, pola asuh yang terlalu permisif atau abai (neglectful) membuat anak tidak memahami batasan dan norma sosial. Kurangnya kehangatan, kasih sayang, dan komunikasi dari orang tua juga dapat memicu anak mencari perhatian dengan cara yang negatif di sekolah.(Olies/Yuda DP3AP2KB)












